Jangan Panggil Aku Kubu

Gambar  Terhenyak ketika sosok orang rimba atau yang dikenal dengan suku anak dalam (SAD), menghampiri salah satu peserta dalam seminar membangun pemahaman bersama tentang upaya mendukung survivalmasyarakat SAD di sepanjang jalur lintas Sumatera yang digelar Per­kum­pulan Peduli Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat pada 6-7 Juni 2012 beberapa waktu lalu.

Dengan tulus dan berlinang air mata, ia mengatakan ”Jangan Panggil Aku Kubu”. Entah apa sebabnya, wajah dari orang rimba tak begitu bersahabat dengan sapaan yang dilontarkan peserta dengan kata-kata ”Kubu”.

”Kami juga manusia, meski kami saat ini dimarjinalkan, kami cuma ingin diakui, hutan kami tidak dirusak, kami bebas untuk mencari rutan dan peng­hasilan yang lainnya. Kami hanya minta penga­kuan, tapi sampai saat ini, tak ada pengakuan itu, hutan kami dirusak, tak ada lagi mata pencarian yang kami miliki, tolong jangan tambah penderitaan kami dengan panggilan  “Kubu,” tutur salah seorang perwakilan dari orang rimba dengan wajah sendu dan bola air mata berbinar-binar.

Tanda tanya besar menyelimuti hati dan perasaanku hingga saat ini. Entah apa sebabnya, orang-orang rimba alergi dengan sebutan ”Kubu”. Apa mungkin kata-kata kubu menyakitkan bagi hati orang rimba, atau memang kata-kata ”Kubu” jadi momok yang sangat mena­kut­kan bagi orang rimba. Entahlah, hanya orang rimba yang bisa menjawab per­tanyaan itu.

Sejarah SAD masih penuh misteri. Bahkan hingga kini, tak ada yang bisa memastikan asal usul mereka. Hanya beberapa teori, dan cerita dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sedikit sejarah mereka. Dari referensi berbagai sumber yang bisa diambil kesimpulan—entah benar entah tidak—sebutan Kubu itu diperuntukan bagi SAD di mana Kubu itu merupakan suku bagi orang rimba. Tapi mengapa, ketika orang rimba di­panggil dengan sebutan ”Kubu” justru malah tak ingin dipanggil dengan kata-kata ”Kubu”, seakan sebutan ini tamparan bagi orang rimba.

Sejarah Orang Rimba

Kalau kita baca kembali sejarah Suku Kubu di Jambi, memaparkan, sejarah SAD masih penuh misteri. Hanya be­berapa teori, dan cerita dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sejarah mereka.

Sejarah lisan orang rimba selalu diturunkan para leluhur. Tengganai Ngembar, 80, pemangku adat sekaligus warga tertua SAD yang tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, mendapat dua versi cerita mengenai sejarah orang rimba dari para terdahulu. Ia memperkirakan dua versi ini punya keterkaitan.

Yang pertama, leluhur mereka adalah orang Maalau Sesat, yang meninggalkan keluarga dan lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, TNBD. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Sedangkan versi kedua, penghuni rimba adalah masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bermigrasi mencari sumber-sumber penghidupan yang lebih baik. Diper­kirakan karena kondisi keamanan tidak kondusif atau pasokan pangan tidak memadai di Pagaruyung, mereka pun menetap di hutan itu.

Versi kedua ini lebih banyak dikuatkan dari segi bahasa, karena terdapat sejumlah kesamaan antara bahasa rimba dan Minang. Orang rimba juga menganut sistem matrilineal, sama dengan budaya Minang. Dan yang lebih mengejutkan, orang rimba mengenal Pucuk Undang Nang Delapan, terdiri atas hukum empat ke atas dan empat ke bawah, yang juga dikenal di Ranah Minang.

Di Kabupaten Tanahdatar sebagai pusat Kerajaan Pagaruyung sendiri, terdapat sebuah daerah, yaitu Kubu Kandang. Merekalah yang diperkirakan bermigrasi ke beberapa wilayah di Jambi bagian barat.

Sedangkan perilaku orang rimba yang kubu atau terbelakang, menurut Ngem­bar, disebabkan beratus tahun moyang me­reka hidup di tengah hutan, tidak me­ngenal peradaban. Kehidupan mereka sa­ngat dekat dan bergantung pada alam. ”Kami beranak pinak dalam rimba, makan si­rih, berburu, dan meramu obat alam, se­hingga lupa dengan peradaban orang desa. Kami terbentuk jadi orang rimba,” tuturnya.

Mereka hidup seminomaden, karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tujuannya, bisa jadi ”melangun” atau pindah ketika ada warga meninggal, menghindari musuh, dan membuka ladang baru. Orang rimba tinggal di pondok-pondok, yang disebut sesudungon, bangunan kayu hutan, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal.

Hasil survei Kelompok Konservasi Indonesia (KKI) Warsi tahun 2004 menyatakan, jumlah orang rimba di TNBD ada 1.542 jiwa. Mereka menempati hutan yang kemudian di­nya­takan ka­wasan TNBD, di per­batasan empat kabupaten, yaitu Ba­tanghari, Tebo, Merangin, dan Saro­langun. Hingga tahun 2006, paling sedikit terdapat 59 kelompok kecil orang rimba. Beberapa ada yang mulai hidup dan menyatukan diri dengan kehidupan desa sekitarnya. Namun sebagian besar masih tinggal di hutan dan menerapkan hukum adat sebagaimana nenek moyang dahulu.

Selain di TNBD, kelompok- kelompok orang rimba juga tersebar di tiga wilayah lain. Populasi terbesar terdapat di Bayung Lencir, Sumatera Selatan, sekitar 8.000 orang. Mereka hidup pada sepanjang aliran anak-anak sungai keempat (lebih kecil dari sungai tersier), seperti anak Sungai Bayung Lencir, Sungai Lilin, dan Sungai Bahar. Ada juga yang hidup di Kabupaten Sarolangun, sepanjang anak Sungai Limun, Batang Asai, Merangin, Tabir, Pelepak, dan Kembang Bungo, jumlahnya sekitar 1.200 orang. Kelompok lainnya menempati Taman Nasional Bukit Tigapuluh, sekitar 500 orang.

Karena tidak dekat dengan peradaban dan hukum modern, orang rimba me­miliki sendiri hukum rimba. Mereka menyebutnya seloka adat. Ada satu seloka yang bisa menjelaskan tentang orang rimba: Bertubuh onggok//berpisang cangko//beratap tikai//berdinding ba­ner//melemak buah be­tatal//minum air dari bonggol kayu. Ada lagi: berkambing kijang// berkerbau tenu//bersapi ruso. Mereka sehari-harinya tanpa baju, kecuali cawat penutup kemaluan. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dinding dari kayu.

Cara hidup dengan makan buah-bua­han di hutan, berburu, dan me­ngon­sumsi air dari sungai yang diambil dengan bong­gol kayu. Makanan mereka bukan hewan ter­nak, tetapi kijang, ayam hutan, dan rusa. Identitas orang rimba yang tertuang lewat seloka, membedakannya dari orang terang—sebutan untuk masyarakat di desa. Mereka membuat seloka tentang orang terang: berpinang gayur/berumah tanggo/berdusun beralaman/beternak angso.

Seloka yang muncul lewat mimpi juga memberi panduan mengenai hidup sosial di rimba. Aturan-aturan orang rimba memang tidak jauh dari Pucuk Undang Nang Delapan, yang dibawa dari Minang. Aturan rimba sendiri melarang adanya pembunuhan, pencurian, dan pemer­kosaan. Inilah larangan terberat, yang jika dilanggar akan dikenai hukuman 500 lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat, dan sangat sulit disanggupi, karenanya orang rimba berusaha untuk mematuhi.

Kisah yang dituturkan Ngembar tak berbeda jauh dengan warga SAD di kawasan lain TNBD. Tumenggung Tarib, pimpinan di salah satu rombongan SAD, mengemukakan bahwa mereka adalah keturunan Kerajaan Pagaruyung (Dhar­masraya) yang merantau ke Jambi. Untuk sejarah lisan ini, menurut Tarib, ditu­runkan sampai enam generasi ke bawah.

Salah seorang peneliti antropologi asal Australia Johan Weintre, yang juga pernah menetap di hutan rimba TNBD, me­nuliskan, Kerajaan Sriwijaya menguasai Selat Malaka serta melakukan perniagaan dan memiliki hubungan sosial dengan mancanegara, termasuk Tiongkok dan Chola, sebuah kerajaan di India Selatan. Sekitar tahun 1025, Kerajaan Chola menyerang Kerajaan Sriwijaya dan me­nguasai daerahnya. Lalu sebagian pen­duduk yang tidak ingin dikuasai penjajah, mengungsi ke hutan. Mereka kemudian disebut kubu, membangun komunitas baru di daerah terpencil.

Sebenarnya, masyarakat SAD tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain di sekitarnya. Pengaruh Minang tidak hanya lekat di sana, namun juga pada daerah sekitarnya, wilayah Kabupaten Saro­langun, Merangin, Bungo, dan Muaro Tebo, yang mengitari kawasan TNBD.

Salah satu buktinya, masyarakat adat Melayu kuno di Kuto Rayo, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, juga me­megang hukum adat Pucuk Undang Nang Delapan dari Minang, dan menganut sistem matrilineal. Sejarah mereka juga kaum pelarian pada Perang Sriwijaya. (Naskah ini ditulis oleh Sinta Febrian dimuat oleh Harian Padang Ekspres • Jumat, 29/06/2012)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s